UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Dalam Kenangan

 

Dari Penjaga Masjid Hingga Sarjana

Pertengahan 2002 adalah tahun di mana pertama kalinya aku menapakkan kaki di Jogja, Kota yang telah lama kurindukan, rasa-rasanya saat itu saya sangat bangga bisa sampai di Jogja, maklum perjalanan  dari Cirebon ke Jogja membutuhkan dana yang tidak sedikit, apalagi saat itu saya belum bekerja, orangtua pun hidupnya pas-pasan. Namun awal-awal tinggal di Jogja menyisakan sedikit kesedihan, walau saya pernah hidup jauh dari orangtua dan keluarga, namun perpisahan ini pun membuat hatiku masih saja merindukan keluarga, dan kampung halaman.

Apalah daya, rasa rindu itu harus kusimpan dalam-dalam, sebab tidak mungkin saya harus kembali ke kampung halaman, selain jarak yang cukup jauh, biaya transportasi dan niat saya yang ingin kuliah di Jogja menjadi alasan mengapa saya harus bertahan. Saya paksakan diri ini untuk bertahan di Jogja, demi meraih cita-cita bisa kuliah di Jogja. setelah beberapa hari tinggal di Jogja, tibalah saatnya saya mendaftarkan diri di kampus UIN Sunan Kalijaga, setelah melalui proses, alhamdulillah akhirnya saya lolos seleksi dan resmi menjadi Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga.

Dusun Mundusaren kelurahan Caturtunggal Kec. Depok, Sleman, menjadi saksi pertama kalinya aku tinggal di Jogja, saat itu udara cukup sejuk, apalagi jika dipagi hari, menurutku rasanya sangat dingin, sampai-sampai bulu kuduku merinding karena kedinginan, bahkan sambil menunggu dingin hilang, saya sering mandi di atas jam 7 pagi, walau waktu subuh saya sudah terbangun, rasanya saya tidak sanggup untuk mandi di pagi buta.

Di Dusun Mundusaren saya tidak bertahan lama, hanya sekitar 2 bulan saja saya tinggal di sini, saya memutuskan pindah mencari Masjid, ya di Jogja adalah hal yang biasa Masjid di tempati para perantau yang menuntut ilmunya di Jogja, saat itu alasan yang paling utama adalah mencari tempat tinggal yang gratis, maklum bagi saya yang dari keluarga tidak mampu, jauh dari orangtua dan keluarga, harus mencari jalan agar mampu bertahan di Jogja, bekal yang secukupnya harus benar-benar saya bagi untuk kehidupan sehari-hari, kalau tidak pandai-pandai mencari jalan keluar, tak akan mungkin bekal bulanan saya cukup untuk menghidupi saya.

Dalam pencariannya, sampailah saya menemukan sebuah Masjid di daerah Seturan Kelurahan Caturtunggal Depok, Sleman, masjid itu bernama Al-Jihad. Dengan bantuan dari seseorang yang menjadi teman guru saya saat SMA, resmilah saya menjadi JamesBond (Jaga mesjid dan kebon), saat itu saya sangat bersyukur mendapatkan tempat bernaung Gratis, jangan anda bayangkan tempat gratisan itu kotor, fasilitas minim dan hal kurang mengenakkan lainnya, di sini saya benar-benar mendapatkan fasilitas seperti halnya anak kost, kamar pribadi, kamar mandi, listri dan lain-lain sudah tersedia di sini.

Sebagai Jamesbond, tentu tugas pokoknya adalah menjaga masjid dan kebon, menjaga masjid artinya membersihkan ruangan masjid, halaman, kamar mandi, tempat wudhu dan juga menjaga waktu shalat, maksudnya setiap waktu shalat masuk, saya harus sudah siap mengumandangkan adzan, selain itu tanaman-tanaman yang ada di halaman masjid harus selalu dirawat, menyiramnya di pagi dan sore hari menjadi tanggung jawab kami.

Selain bertanggung jawab terhadap Masjid yang saya tempati, saya pun mempunyai aktifitas baru, yaitu Kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jarak antara masjid dengan kampus berkisar 3 KM, kuliah di pagi hari, siang sudah kembali, dengan bersepeda kunikmati indahnya pemandangan persawahan dan perkotaan, dari Seturan menuju jalan Adi Sucipto ada persawahan yang tidak begitu luas menjadi hiburan saat saya berangkat dan pulang dari kampus, dan sesampainya di Jalan Adi Sucipto, suara bising kendaraan mulai terdengar, Jalan ini yang menghubungkan antara Jogja dan Solo, maka tidak heran jalan ini cukup ramai.

Saya kuliah di Jurusan Aqidah Filsafat Fakultas Ushuluddin, sebenarnya jurusan ini bukan favorit saya, pilihan pertama Jurusan Matematika, saat itu saya bingun mau mengisi Jurusan apa di pilihan yang berikutnya, akhirnya saya asal isi saja, ternyata itu adalah jurusan Aqidah dan Filsafat, tidak ada bayangan dan niatan sama sekali saya masuk Jurusan ini, namun saya meyakini, ini adalah bagian dari ketentuan Allah, dan saya pun menjalaninya dengan sedikit paksaan.

Sempat saya berniat pindah Jurusan dan Fakultas, sebab menurut hati saya, jurusan ini kurang cocok untuk saya, apalagi materi filsafat yang diajarkan kadang membuat hati tidak tenang, bahkan di jurusan ini seorang teman sekelas mengatakan ke saya "Nal, aku sekarang sudah tidak shalat seperti dulu lagi". Namun teman-teman yang lain ternyata masih banyak yang menjalankan shalat 5 waktu. Namun entah mengapa saya mengurungkan niat saya untuk pindah dari Jurusan ini.

Setelah semester demi semester saya lalui, tibalah saatnya saya menyusun sebuah skripsi, sebagai salah satu syarat wajib kelulusan dari UIN Sunan Kalijaga agar bergelar Sarjana, dua kali saya di tolak ketika mengajukan judul skripsi ke pembimbing saya, namun Alhamdulillah, ketiga kalinya judul skripsi saya diterima, dengan berbagai masukan dari dosen pembbimbing akhirnya saya mengajukan sebuah judul skripsi "Kebahagiaan Menurut 'Aidh Abdullah Al-Qarni", dalam penyusunannya sebenarnya skripsi yang saya buat selesai dalam satu semester, namun karena SKS yang saya ambil kurang 2 akhirnya selama satu semester saya kuliah hanya dengan 3 SKS, mau ambil mata kuliah yang lain, sayangnya saat itu belum ada yang menarik hati saya.

Alhamdulillah, setelah skripsi dan kekurangan SKS telah saya penuhi, tibalah saatnya saya ikut Munaqasyah, dengan diuji oleh 3 Dosen, saya memaparkan dan menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan, dan Alhamdulillah, sekitar puluhan menit sidang Munaqasyah telah selesai saya jalani, dan saya dinyatakan lulus dengan nilai Skripsi B.

Read More